Myanmar: Luka panjang kemanusiaan
Iklan
Krisis kemanusiaan susulan rampasan kuasa junta pada 2021 yang meruntuhkan kerajaan demokratik, sekali gus mencetuskan perang saudara di seluruh Myanmar. - Foto Agensi
"THIS is not a life. This is just survival,” keluh seorang pelarian etnik Rohingya kepada penulis, Kaamil Ahmed dalam buku pertama yang menggugah, I Feel No Peace. Rohingya Fleeing Over Seas and Rivers, terbitan Hurst & Company pada 2023.
Pena tajam Kaamil telah menelanjangkan luka kemanusiaan di utara Myanmar, bermula daripada tindakan mengepung kemudian membakar hidup-hidup masyarakat Rohingya di utara Rakhaine dan berakhir di kem pelarian Kutupalong, Bangladesh.