BERDASARKAN penelitian nas al-Quran dan As-Sunnah, golongan ulama telah memudahkan umat Islam memahami tauhid dengan mengkategorikannya kepada tiga jenis; iaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid Asma’ wa sifat.

Tauhid rububiyah adalah keimanan yakni ALLAH adalah pencipta, pemberi rezeki, penguasa, pentadbir seluruh makhluk sesuai dengan kehendak-Nya. ALLAH tidak akan ditanya tentang perbuatan-Nya, sedangkan setiap mukalaf akan ditanya. ALLAH SWT berfirman: “ALLAH menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” (Surah Al-Zumar: 62). “Dan ALLAH menciptakan kamu dan apa yang kalian kerjakan.” (Al-Saffat: 96).

Tauhid rububiyah mewajibkan adanya tauhid uluhiyah. Sesiapa mengakui tauhid rububiyah untuk ALLAH, iaitu mengimani tidak ada pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam kecuali ALLAH, dia juga wajib mengakui tiada yang berhak menerima ibadah kecuali ALLAH SWT semata-mata. Itulah tauhid uluhiyah.

Tauhid uluhiyah adalah keimanan yakni ALLAH adalah satu-satunya yang berhak diibadahi (disembah), tidak ada selain-Nya. ALLAH memerintahkan semua mukalaf daripada jin dan manusia beribadah kepada ALLAH tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, baik penghuni langit atau bumi, manusia atau malaikat.

ALLAH SWT berfirman: “Dan masjid-masjid itu adalah kepunyaan ALLAH, maka janganlah kamu menyembah sesuatu pun di samping (kamu menyembah) ALLAH.” (Surah Al-Jin: 18). “Dan Tuhan mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (Surah Al-Israa: 23).

Maka tiada yang diseru dalam doa, diminta pertolongan dan dijadikan tempat bergantung hanya ALLAH SWT. Tidak boleh menyembelih binatang dan bernazar kecuali hanya untuk ALLAH.

Oleh itu, ALLAH sering membantah orang yang beriman dengan tauhid rububiyah tetapi mengingkari tauhid uluhiyah, sebagaimana firman-Nya: “Wahai manusia, sembahlah Tuhan mu yang telah menciptakan mu dan orang yang sebelum mu, agar kamu bertakwa.

Dia yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi mu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk mu; kerana itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi ALLAH, padahal kamu mengetahui.” (Surah Al-Baqarah: 21-22)

Beriman kepada ALLAH, pencipta seluruh alam, menurunkan hujan dan memberi rezeki, tetapi pada masa sama beribadah selain daripada ALLAH. Ini tidak ada bezanya dengan kepercayaan golongan kafir Arab jahiliyah.

ALLAH berhujah atas orang musyrik yang melakukan hal demikian dengan menyebut rububiyah-Nya, bahkan ALLAH memerintahkan Rasulullah SAW berhujah atas mereka seperti itu, sebagaimana firman ALLAH: “Katakanlah (wahai Muhammad): Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?

Mereka akan menjawab: “Milik ALLAH.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah yang memiliki langit yang tujuh dan memiliki ‘Arsy yang agung?”

Mereka akan menjawab: “Milik ALLAH.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi daripada (azab)Nya, jika kamu mengetahui?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan ALLAH.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Surah Al-Mukminun : 84-89)

ALLAH berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hak-Nya untuk disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. ALLAH SWT berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada Ku.” (Surah Al-Dzariyat : 56)

Seorang hamba tidaklah dikira mentauhidkan ALLAH hanya dengan mengakui rububiyah ALLAH semata, tetapi dia wajib beriman dan mengamalkan tauhid uluhiyah, iaitu memurnikan seluruh ibadahnya  hanya kepada ALLAH semata-mata.

Jika tidak, imannya tidak ada beza seperti iman golongan musyrikin yang turut mengakui tauhid rububiyah, tetapi hal itu tidak menjadikan mereka masuk dalam Islam.

Maka sesiapa menganggap tauhid itu hanyalah meyakini wujudnya ALLAH, atau meyakini ALLAH adalah pencipta dan pengatur alam, dan sebenarnya orang itu belum mengetahui hakikat tauhid yang dibawa golongan rasul.



* Penulis ialah Penasihat Eksekutif Pertubuhan Ilmuwan Malaysia (iLMU)

www.sinarharian.com.my tidak bertanggungjawab di atas setiap pandangan dan pendapat yang diutarakan melalui laman sosial ini. Ia adalah pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pandangan dan pendirian kami.