SEGALA puji bagi ALLAH, sesungguhnya seluruh kehidupan manusia ini bermula dengan nikmat ALLAH SWT. Nikmat yang ALLAH gambarkan sejak manusia di alam rahim ibunya, di mana ketika ditiupkan roh, ALLAH SWT telah menetapkan; amal kita, rezeki dan ajal, bahagia atau sengsara, semua telah ditentukan. (Rujuk Al-Bukhari & Muslim).

ALLAH mengajarkan manusia benda yang dia tidak tahu. Oleh itu manusia tidak boleh sombong dengan ilmunya, sebab kalau kita kembali kepada kisah malaikat bertanya kepada ALLAH tentang penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi, “Apakah Engkau hendak menciptakan orang yang akan membuat kerosakan dan menumpahkan darah?”

ALLAH berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku lebih tahu apa yang kamu tidak tahu.” Lantas malaikat berkata, “Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang Engkau ajar kepada kami.” (Al-Baqarah: 32)

Malaikat mengakui kebenaran bahawa mereka tidak ada apa-apa ilmu kecuali hanya apa yang ALLAH ajarkan, apatah lagi kita. Sebab itu jangan kita bangga dengan ilmu dan apa kita ada sehingga kita memiliki ciri-ciri takbur seperti sabda Nabi, “Al-Kibr (sombong) iaitu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (Sahih Muslim)

Anugerah ALLAH beri kepada manusia sangat hebat dan sangat dahsyat. Nikmat ALLAH paling besar kepada manusia adalah diutuskan para Rasul yang dengannya manusia mendapat petunjuk.

Seluruh Rasul membawa petunjuk agama yang benar, lalu risalah itu disempurnakan oleh Rasul penutup, Muhammad SAW.

Ini sebagaimana dijelaskan Nabi SAW sendiri, apabila Baginda mengibaratkan kedudukan Baginda di kalangan para Rasul seperti binaan sebuah istana yang sempurna dan orang melihat istana itu dengan kagum, kecuali ada satu ruang kosong untuk sebiji batu bata yang dengannya ia akan jadi lengkap sempurna.

Rasulullah SAW bersabda, “Akulah bata itu, dan akulah penutup para Nabi.” (Al-Bukhari dan Muslim).

ALLAH memenangkan agama ini dengan petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah. ALLAH juga yang mengangkat kedudukan para Rasul atas manusia-manusia yang lain.

Kita lihat berapa ramai Nabi palsu telah muncul sejak zaman Nabi hingga ke hari ini, Musailamah Al-Kazzab dan selainnya, namun akhirnya pendustaan mereka semua terbongkar dan tidak ada seorang pun yang seperti mereka kecuali semuanya pasti mendapat kesudahan yang hina.

Berbeza dengan Rasul yang ALLAH pilih, ALLAH mengangkat kedudukan mereka dan memuliakan mereka selama-lamanya. Demikian ALLAH memelihara agama yang benar di sisiNYA. Barang siapa mencari kemuliaan selain Islam, menyelewengkan risalahNYA, pasti apa yang akan mereka dapat adalah kehinaan.

Tiada kemenangan, kemuliaan dan kehormatan kecuali dengan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW.

ALLAH SWT mengingatkan hamba-hambaNYA akan tanda-tanda penciptaanNya melalui lisan-lisan para Rasul. Maka mereka yang mendapat petunjuk adalah mereka yang mengikuti ucapan dan perbuatan para Rasul, adapun mereka yang sesat adalah mereka yang menolak dan menyelisihinya.

Imam Al-Qairawani rh (wafat 386H) berkata, “Orang yang menolak seruan para Rasul telah sesat dengan keadilan yang ALLAH tentukan untuknya.

Dan ALLAH mudahkan orang yang beriman menikmati kemudahan dalam beriman, iaitu ALLAH buka dada-dada mereka untuk mereka mudah mengingati apa yang ALLAH berikan kepada mereka.”

Yakni ciri-ciri orang beriman adalah mereka sentiasa ingat nikmat yang ALLAH beri kepada mereka dan mensyukurinya. Berbeza orang yang kufur pada nikmat, lalu mereka tidak bersyukur dan ALLAH menjadikan mereka sesat dengan keadilanNYA. Ini kerana ALLAH SWT Maha Adil dalam menghukum.

Imam Al-Qairawani melanjutkan, “Maka mereka (orang yang menerima petunjuk) beriman kepada ALLAH dengan lisan-lisan mereka yang mengucapkannya, dan mereka mempelajari apa yang ALLAH ajar kepada mereka (melalui RasulNYA). Mereka juga menahan diri mereka pada perkara yang ALLAH tetapkan.”

Orang yang beriman dengan risalah yang dibawa Rasulullah tidak akan melampaui apa-apa yang ALLAH tetapkan.

Sebab itu penting untuk kita sentiasa muhasabah diri, bagaimana kita boleh berusaha mematuhi peraturan yang manusia cipta, sedangkan peraturan-peraturan, undang-undang, prinsip yang ALLAH tetapkan kita tidak bertungkus-lumus melaksanakannya, baik dalam akidah, ibadah, adab, hukum dan seluruhnya.